BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
“Kedudukan Kedua Orang Tua Dalam Syari’at Islam”
Oleh :
Al-hafizh Raswan Maulana MA, Phd
Ada tiga perintah allah yang berangkai didalam alquran, yang menurut para ulama tidak diterima yang satu apabila yang lain tidak dikerjakan.
Pertama¸ اقيموا الصلاة وأتوا الزكاة (dirikanlah sholat dan bayarlah zakat). Perintah ini merupakan perintah yang berangkai. artinya tidak diterima sholatnya orang yang tidak membayar zakat dan tidak diterima zakatnya orang yang tidak mendirikan sholat. Jika sholat dikerjakan maka zakat jika sudah sampai haul dan nisabnya juga harus dilaksanakan.
Kedua, اطيعوا الله واطيعوا الرسول (taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada rosul), artinya tidak diterima mentaati Allah jika membelakangi rosulullah dan tidak diterima mentaati rosul jika tidak mentaati Allah. Perintah ini berangkai dan tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Mengamalkan Quran, artinya juga harus dengan mengamalkan sunnah.
Ketiga, انشكر لي ووالديك (hendaklah kamu bersyukur kepada ku dan bersyukur kepada kedua orang tua mu). Bersyukur kepada Allah jika namun tidak beryukur kepada kedua orang tua tidak diterima. Dan bersyukur kepada kedua orang tua tetapi tidak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala juga ditolak. Perintah ini berangkai dan tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Jika seseorang pandai bersyukur kepada Allah artinya ia juga harus pandai bersyukur kepada kedua orang tua. Bersyukur kepada ibu bapak artinya berbakti kepada ibu bapak kita.
Diriwayatkan :
“sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman kepada nabi musa ‘alaihi wa salam: “wahai musa, sesungguhya siapa saja yang berbakti kepada kedua orang tuanya sekalipun ia melawanku, dia tetap ku catat sebagai orang yang berbuat baik. Dan barang siapa yang berbakti kepada ku sedangkan ia melawanku, maka dia ku catat sebagai orang yang melawan”.
Kalau kita perhatikan, kedudukan orang tua didalam alquran itu tinggi sekali. Misalkan dalam QS. Al-isra’:23 :
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24)
Maksudnya :“Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al-Isra : 23)
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah menyayangi aku di waktu kecil'.” (QS. Al-Isra : 24)
Perhatikan urutan kalimatnya, kalimat yang pertama berbicara tentang kewajiban menyembah Allah, dan kalimat yang kedua berisi tentang perintah berbakti kepada kedua orang tua. Disini kita akan mengetahui, betapa tingginya kedudukan kedua orang tua kita sehingga dirangkaikan dengan perintah bertauhid.
Hal serupa dapat kita temukan juga dalam QS. Annisa : 36 dan QS. Al-baqoroh : 83 :
Maksudnya : "Dan hendaklah kamu beribadat kepada Allah dan janganlah kamu sekutukan Dia dengan sesuatu apa jua; dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua ibu-bapa, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan jiran tetangga yang dekat, dan jiran tetangga yang jauh, dan rakan sejawat, dan orang musafir yang terlantar, dan juga hamba yang kamu miliki. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang sombong takbur dan membangga-banggakan diri."
Maksudnya : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling”.
Dalam kehidupan sehari-hari biasanya perintah penting pertama terdapat pada urutan pertama dan perintah penting keua terdapat dalam urutan kedua. Dari segi perioritas, kita akan mengetahui betapa mulia kedudukan orang tua kita dalam kehidupan ini.
Allah SWT berfirman:
وَقَضَى رَبُّك
Dan tuhanmu telah memerintahkan
Menurut Ibnu ‘Abbas, al-Hasan, dan Qatadah --sebagaimana dikutip Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth--, kata qadhâ berarti أمر (memerintahkan).
Imam al-Qurthubi juga memaknainya dengan اوجب و الزم و أمر (memerintahkan, mengharuskan, dan mewajibkan).
Perkara yang diperintahkan dalam ayat ini adalah: أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ (supaya kamu jangan menyembah selain Dia). Bahwa manusia hanya boleh menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Tidak boleh sama sekali menyembah selain-Nya dan menyekutukan-Nya dengan yang lain (lihat QS al-Nisa’ [4]: 36).
Berkenaan dengan ayat ini, Sihabuddin al-Alusi berkata, “Dan Allah SWT memerintahkan agar tidak menyembah selain-Nya karena ‘ibadah merupakan ghâyat al-ta’zhîm (puncak pengagungan). Dan ini tidak layak kecuali kepada Dzat yang memiliki puncak keagungan, Pemberi nikmat dengan berbagai kenimatan yang besar. Dan selain Allah SWT tidaklah demikian.” Penjelasan senada juga dikemukakan Fakhruddin al-Razi dalam al-Tafsîr al-Kabîr.
Perintah berikutnya adalah:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”.
Didahulukannya kata al-wâlidayn menunjukkan الإهتمام شدة (kuatnya perhatian). Sedangkan digunakan إِحْسَانًا dalam bentuk nakirah, menunjukkan al-ta’zhîm. Artinya, Tuhanmu memerintahkan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tuamu dengan kebaikan yang agung lagi sempurna. Demikian penjelasan Fakhruddin al-Razi.
Kemudian Allah SWT berfirman:
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا
“jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu”.
Dijelaskan Abdurrahman al-Sa’di, frasa ini bermakna, “Jika keduanya telah sampai pada usia yang telah lemah kekuatannya dan membutuhkan kasih sayang dan ihsân.”
Menurut al-Syaukani, الْكِبَرَ (usia lanjut) disebutkan secara khusus untuk menunjukkan makna bahwa pada saat itu perbuatan baik dari anak lebih dibutuhkan daripada orang lain.
Tatkala dalam keadaan demikian, seorang anak diserukan:
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ
maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "uffin.
Menurut Abu Hayyan al-Andalusi, kata أُفٍّ merupakan ism fi’l yang bermakna اتضجر (saya bosan, saya jemu). Dengan demikian –sebagaimana diterangkan al-Syaukani--, seorang anak tidak boleh menampakkan keengganan atau keberatannya terhadap orang tua. Kendati yang disebutkan dalam ayat ini larangan berkata أُفٍّ, namun mafhûm al-muwâfaqah (makna tersirat yang sejalan) dengannya mencakup semua perkataan dan tindakan yang dapat menyakiti hati orang tua.
Kesimpulan ini kian dikukuh dalam frasa selanjutnya: وَلَا تَنْهَرْهُمَا (dan janganlah kamu membentak mereka). Kata تَنْهَر berasal dari kata النهر yang berarti الغلطة ب الزجر (membentak dengan marah). Demikian penjelasan al-Zuhaili dalam al-Tafsîr al-Munîr.
Sebaliknya, manusia diperintahkan:
وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Menurut al-Qurthubi, قَوْلًا كَرِيمًا berarti لطيفا قَوْلًا (perkataan yang lembut).
Tidak hanya dalam ucapan, namun bersikap baik itu juga mewujud dalam perbuatan. Dalam ayat berikutnya ditegaskan:
وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang
Menurut al-Razi, ungkapan dalam ayat ini bermakna melebihkan tawadhu’. Kata مِنَ الرَّحْمَةِ menunjukkan bahwa sikap tawadlu’ itu disebabkan oleh besarnya kasih sayang dan belas kasihan kepada keduanya karena telah tua dan lemahnya mereka.
Diperintahkan pula untuk mendoakan mereka. Allah SWT berfirman:
وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil"
Perintah untuk mendoakan mereka agar diberikan rahmat dari-Nya itu berlaku baik keduanya masih hidup maupun sudah meninggal. Khusus bagi orang tua musyrik yang sudah meninggal, dilarang untuk mendoakannya, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT: Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam (TQS al-Taubah [9]: 113).
Suatu ketika ada seorang lelaki mendatangi rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata : “wahai rosul, aku ingin berjuang tetapi aku tidak mampu”. Beliau bertanya : “apakah kedua orang tua mu masih hidup?”. Pemuda itu menjawab : “hanya ibuku yang masih hidup wahai rasulullah”. Rasul bersabda: “berdo’alah kepada Allah dan senantiasalah berbakti kepada ibumu”. Kalau kamu lakukan itu, artinya sama saja dengan mengerjakan ibadah haji, umrah, dan berjihad.” (HR. Imam Abu ya’la dan Imam Thabrani dengan sanad jayyid).
Nabi Shallallahu ‘alaihi Wa sallam berdabda :
“berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada sholat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjuang dijalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Subhanallah, dari kedua hadits diatas, kita akan semakin mengetahui betapa mulia dan tingginya kedudukan orang tua kita di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sehingga wajar jika perintah berbakti kepada kedua orang tua disetarakan dengan ibadah haji, umroh dan jihad. Bahkan dihadits yang kedua rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa hal itu lebih utama dari pada sholat, sedekah, puasa, haji, umrah, dan berjuang dijalan Allah subhanahu wa ta’ala.
Keindahan ajaran islam akan semakin terpancar tatkala kita tetap diperintahkan untuk menghormati dan menjaga jalinan silaturahim kepadanya yang berbeda agama dengan kita. Sebagaimana yang tercantum dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam syaikhon melalui Asma’ Binti Abu bakar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata :
“ibuku datang kepadaku, saat itu di zaman rashulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam ibuku masih musyrik. Kemudian aku meminta petunjuk kepada nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam. Aku bertanya : “ibuku datang kepadaku, padahal ia membenci islam dan semua yang kumiliki. Lalu apa aku harus menerimanya?. Beliau menjawab : Ya, terimalah ibumu.”