Selasa, 31 Mei 2016

Resume Agama Budha


BUDHA

Disusun Oleh :
Maria Ulfa
Ilmu Agama Islam
Universitas Negeri Jakarta



A.   Sejarah

Agama Budhalahirpadaabad ke-6 SMdi India . Pencetusnya adalahseorangksatriabernamaSiddharta Gautama.

Siddharta Gautama Dilahirkanpadatahun 563 SM di kerajaankapilawastu, Taman Lumbini, India, bagian timur laut.Salah Seorang intelektual terbesar dan pusat spiritual dunia.Ayahnyaseorang raja bernamaSuddhudana danibunyabernamaDewiKlaya. Saat 16th, SidhartaberistrikanYashodaradanpunyaseoranganak. HidupmewahdalamistanatidakdapatmembahagiakannyasehinggaSidhartamulaimencarijalannyasendiri.

Setelahbeberapa lama bertapadibawahpohonsemacamberingin yang disebutbodhi  (=kesadaran/keinsyafan), Sidhartamelihatjalan yang harusditempuhuntukmencapaikelepasan.

      Sidhartamengajarkanpahamnyapertama kali di dalam Taman rusa di Benares. Iamengembarasebagairahibsambilmenyebarkanajarannya. Akhirnya, saathendakkembaliketempatkelahirannya, iatiba-tibajatuhsakit, dan meninggaldalamusia 80 tahun. Tubuhnyadibakardanabunyadibagikankepada raja yang memelukagamanya.

Agama inimunculdariperpaduanberbagaikebudayaansepertikebudayaanhelinistik(Yunani),kebudayaan Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Agama ini juga munculkarenaadanyareaksiterhadaphadirnya agama Hindu yang muncullebihawal.

Agama Budhamencapai masa kejayaan di zaman pemerintahan Raja Ashoka (273-232 SM) yang menetapkan agama Budhasebagai agama resminegara. Padazama raja Ashokabanyakdibangunbangunan-bangunan yang sangatberhargabagi Agama Budhaseperti stupa dantugu-tugu yang terkenaldengansebutanTiang-TiangAshoka.

B.     Masuknya Agama Budha ke Indonesia

Kedatangan agama Buddha di Indonesia berdasarkan  padacatatan Fa Hien, seorangmisionaris BuddhaasalCina, sekitartahun 423 M, agama Buddhamulaiberkembangdipulaujawa. Agama ini pernah berkembang pesat dan menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia terutama pada masa kejayaan Sriwijaya.

Pemikiran-pemikiran dalam agama Buddha banyak berpengaruh pada banyak hal dalam kehidupan masyarakat Indonesia seperti seni patung, sastra, filsafat, dan kerohanian. Termasuk peninggalan-peninggalan arsitektural yang masih dapat dilihat sebagai bukti masa keemasan agama Buddha yaitu candi, seperti candi Borobudur, candi Mendut, candi Pawon, dan lain-lain.

Perkembangan agama Buddha di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh dua “kiblat” agama Buddha yaitu agama Buddha “awal” yang masuk pada masa kerajaan dan “chinese buddhisme” sebagai gelombang akhir, yang dibawa oleh imigran dari Cina masuk ke Indonesia.



C.    Jenis Buddhisme

1.      Theravada

Buddhisme Theravada dijalankan di  Sri Langka, Myanmar (sebelumnya bernama Burma), Thailand, dan tempat lain di Asia Tenggara .Theravada artinya “kendaraan kecil”. Ajarannya didasarkan pada kitab suci yang disebut Pali Canon.

2.      Mahayana

Buddhisme Mahayana dapat dijumpai di Jepang, Korea, Cina, Tibet, Mongolia dan Nepal.Mahayana artinya “kendaraan besar”. Dan percaya bahwa pernah ada buddha, ada buddha, dan akan ada banyak buddha lainnya.

D.    Kitab Suci

Kitab Suci agama Budha adalah Tripitaka, yang didalamnya mengandung 3 ajaran yakni :

1.      Sutta Pitaka

Sutra (bahasa Sansakerta) atau Sutta (bahasa Pali) mempunyai arti sederhana yaitu ‘benang’. Benang adalah tali halus yang dipintal dari kapas atau sutera, yang gunanya untuk menjahit atau merangkai sesuatu. Setiap khotbah Hyang Buddha seperti kata-kata yang dirangkai menjadi satu dengan indah dan satu sama lain tidak dapat dipisahkan, tidak acak-acakan serta tidak saling bertentangan, oleh sebab itu khotbah Hyang Buddha disebut sutra. Sutra-sutra itu dikumpulkan dan disusun menjadi satu disebut Sutra Pitaka.

            Sutra Pittaka sendiri berisi dharma (dalam bahasa Pali: dhamma) atau ajaran Buddha kepada muridnya. Kitab Sutra Pitaka juga memuat uraian-uraian tentang cara hidup yang berguna bagi para

bhikku atau biksu dan pengikut yang lain.

2.      Vinaya Pitaka

VinayaPittakaberisiperaturan-peraturanuntukmengaturtatatertib sangha ataujemaat, kehidupansehari-hari para biksuataubhikkuataurahib , dansebagainya. Selainitu, kitabsuciVinayaPitakaini juga berisiperaturan-peraturanbagi para BhikkudanBhikkuni.

3.      Abbidharma Pitaka

VinayaPittakaberisiperaturan-peraturanuntukmengaturtatatertib sangha ataujemaat, kehidupansehari-hari para biksuataubhikkuataurahib , dansebagainya. Selainitu, kitabsuciVinayaPitakaini juga berisiperaturan-peraturanbagi para BhikkudanBhikkuni.

E.     Pokok – Pokok Ajaran Agama Buddha

1.      Tigapermata(TiratanaatauTriratna (Pali)

2.         Empat kebenaranMuliadanJalanUtamaBerunsurDelapan

3.      TigaCorakUmum

4.      HukumPerilaku (Karma) danTumimbalLahir

5.      HukumSebab-Musabab yang salingBerkaitan

6.      KebebasanPenderitaan

F.     Tiga Permata

1.      Buddha

  1. Dhamma
  2. Sangha

G.    Syahadat Agama Budha

Dalamsyahadat agama Buddha yang disebutdenganTriratna, berbunyi:

1.      BudhamsaranamGacchami= akuberlindungkepadaBudha

2.      DhammamSaranamGacchami= akuberlindungkepada Dharma (hukum/aturan)

3.      SanghamsaranamGacchami = akuberlindungkepada Sangha (biara, pendeta)

H.    Ajaran Dhamma

1.      Dukha

2.      Samusdya

3.      Margha

4.      Nirodha



I.       Ajaran Sangha

Pengikut agama buddha  dibagimenjadiduabagian, yaitu para Bhiksuatau para rahibdan para kaumawam. Selanjutnyauntukmenegakkan Dharma, makapengikutpengikut Buddha padaumumnya (orang awam) wajibmenjauhilarangan-larangansebagaiberikut:

1.      Dilarangmelakukanpembunuhanterhadapsesamamakhluk (peperangandansebagainya)

2.      Dilarangmencuri, merapok, dansebagainya

3.      Dilarangmelakukanperbuatancabul, perzinahan

4.      Dilarangberdusta/menipu orang lain

5.      Dilarangminum-minuman yang memabukkan.

Kewajiban Anggota Sangha

1.      Dilarangmakankecualipadawaktu yang ditentukan

2.      Dilarangmendatangitempat-tempathiburan, maksiat

3.      Dilarangbersolek, menghiasdiri

4.      Dilarangtidurditempatmewah

5.      Dilarangmenerimasuap.



J.      EmpatKebenaran Mulia

1.      Esensihidupadalahpenderitaan

2.      Sebabpenderitaanadalahnafsukeinginan

3.      Akhirpenderitaandisebabkanpadamnyanafsu keinginan

4.      Jalanuntukmengakhiripenderitaanadalahjalanutamaberunsurdelapan



K.    Jalan Utama Berunsur Delapan

1.      Mengerti empat kebenaran mulia

  1. Berpikir yang benar
  2. Berbicara yang benar
  3. Berbuat yang benar
  4. Mata pencaharian yangbear
  5. Usaha yang benar
  6. Perhatianyang benar
  7. Konsentrasiyang benar



L.   3 Corak Umum

1.     Ketidak-kekalansegalasesuatu yang terjadidarperpaduan.

2.     Kelangsunganterus-menerus (proses) segalasesuatu yang terjadidariperpaduan.

3.     Ketanpa-intiansegalasesuatu yang ada.



M. Hukum Perilaku (karma) danTumimbalLahir

Hukumperilakuinimemberikanpengertiankepadamanusiatentangprinsipberperilaku, seperti kata-kata Buddha: “Sesuaidenganbenih yang telahditanam, begitulahbuah yang akandipetiknya. Ia yang berbuatbaikakanmenerimaakibatkebahagiaan, dania yang berbuatjahatakanmenerimaakibatpenderitaan”.

PerihalTumimbalLahir, ajaran Buddha menyatakanbahwahidupinimrupakan proses berkesinambungandarihidup yang lampau, hidupsekarang, danhidup yang akandatang. Kesinambungandanketerikatanhidupiniberlangsungterusmeneruskarenaadanya “dayahidup” yang berupa “akibatperilaku” danperilaku-perilakumanusia yang telahdilakukannya. Apabilamanusiatidakmemiliki “dayahidup” lagimakaiadikatakanmencapaikebebasandarihidup.

N.   HukumSebab-Musabab yang salingBerkaitan

Hukuminimejelaskantentangterjadinyasesuatu yang “ada” disebabkanolehsebab-sebabataubanyaksebab yang salingberkaitan. Yang “ada”  merupakansuatu “ada” ditengah-tengah “ada-ada” yang banyakbanyak. Olehkarenaitubisadiakatakanbahwasegalasesuatuberlangsungterusmenjadi. Hukuminimenjelaskanbahwatidakadasesuatu yang sudah final atauselesai: semuanyaserbamenjadi, danmenjadibaru  lagiterus-menerus. Itulahhukumkeberadaandankelangsungan yang berada di sunia. Budhamenyatakan : ”Denganadanyaini, adalahitu; dengantimbulnyaini, timbullahitu. Dengantidakadanyaini, tidakadalahitu; denganlenyapnyaini, lenyapnyaitu”.

O.  Kebebasab Penderitaan

Nibbanaseringdipahamikeliru, sebabdipersamakandengansurga. Nibanaadalahkeadaaantidakadakehidupanlagi, sehinggatidakadakelahiran, tidakadausaiatua, tidakadasakit, dantidakadakematianlagi. OlehkarenaituNibbanadalahkeadaanakhirderitaataukebebasanpenderitaan. NibbanaadalahkebebasanpenderitanmaupunkebahagiaanIahanyadapatdirealisasikandandiketahuiolehmasing-masingmanusiadalampencapaiannya.

Ajaran Buddha juga menyampaikan adanya surga, yang merupakan alam kehidupan makhluk-makhluk yang sedang menikmati akibat perilaku baik yang dilakukannya. Tetapibukantujuanakhir agama Budha, tujuannyadalahmencapaiNibbana.

P.    Ibadat

Ada tiga persembahan pokok yang dapat dipersembahkan:

·        Persembahan bunga sebagai peringatan akan kehidupan yang tidak kekal

·        Persembahan lilin untuk kegelapan

·        Persembahan dupa sebagai peringatan akan keabadian harumnya ajaran Buddha

Doa seorang Buddha

Aku persembahkan bunga ini untuk Buddha, dan semoga melalui harumnya bunga ini terjadilah pembebasan. Bahkan kalaupun bungan ini layu demikianlah tubuhku akan hancur. Kepada dia yang tubuh dan wajahnya harum, harum oleh wanginya keabadian, kepada Buddha aku persembahkan dupa yang harum ini.

Q.  Doa dan Meditasi

Umat Buddha menggunakan tasbih (male) untuk membantu mereka berdoa. Male bisa mempunyai 108, 54, 27 manik-manik yang dibuat dari biji-bijian, kayu atau plastik. Umat Buddha menggunakan manik-manik itu untuk menghitung jumlah berapa kali mereka bersujud serta untuk menambah konsentrasi. Dengan setiap manik-manik, suatu mantra diucapkan, atau nama seorang Buddha atau Bodhisatva didaraskan. Mantra yang paling agung – Om mani padme hum – dikenal sebagai “permata dalam bunga teratai” karena dianggap mencakup intisari ajaran Buddha.

Meditasi dibagi 2 :

·        Samatha dilakukan untuk menciptakan perkembangan pikiran dan ketenangan batin yang sejati

·        Vipassana dilakukan untuk memberikan pemahaman mendalam akan kebenaran terhadap hal-hal yang dapat berubah-ubah (anicca), penderitaan (dukkha), dan  ketidakabadian jiwa (anatman).



R.   Konsep Ketuhanan Agama Budha

Dalam ajaran Agama Budha, Sang Budha bukanlah Tuhan dalam agama Budha yang bersifat Non Teis (yakni, pada umumnya tidak mengajarkan keberadaan Tuhan Sang Pencipta, Sang Budha adalah pembimbing guru penunjuk jalan menuju Nirwana.

Dalam agama BudhaasalmuasaldanpenciptaanalamsemestabukanberasaldariTuhan, melainkankarenahukumsebabdanakibat yang telahdisamarkanolehwaktu. Dalam agama Budha tidak ada makhluk sakti yang menjadi pencipta segalanya, Budha Gautama menyatakan bahwa pemikiran kitalah yang menjadikan dunia ini. Sang Budha menganggap buah pikiran sebagai pencipta.

Perlu ditekankan bahwa Budha bukan Tuhan, konsep keTuhanan dalam agama budha berbeda dengan agama samawi dimana alam semesta diciptakan  Tuhan dan tujuan akhir hidup manusia adalah kembali kesurga.

Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana satu makhluk tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untukmencapaiitupertolongandanbantuanpihak lain tidakadapengaruhnya. Tidakadadewa - dewi yang dapatmembantu, hanyadenganusahasendirilahkebuddhaandapatdicapai. Buddha hanyamerupakancontoh, jurupandu, dan guru bagimakhluk yang perlumelaluijalanmerekasendiri, mencapaipencerahanrohani, danmelihatkebenaran&realitassebenar-benarnya.

S.    Hari Raya

Agama Budhamengenal4harirayakeagamaandalamsatutahun. Keempatnyaantaralain :

1.     Waisak = peringatankelahiran Sang Budha, haripenerangansempurnabagi Sang Budha, danhariwafatnya Sang Budha

2.     Kathina.

3.     Asadha.

4.     Magha Puja.



T.   Qurban dalam Agama Budha

Buddha tidak menyetujui pengorbanan hewan karena memandangnya sebagai hal yang kejam dan tidak adil bagi siapa pun yang merusak kehidupan makhluk lain demi keuntungan diri sendiri. Hal yang kejam karena dilakukan dengan cara menyakiti dan dipaksa, tidak adil karena kehidupan yang dirampas makhluk lain yang harus mengakhiri kehidupan di dunia apalagi melakukan pembunuhan dengan maksud untuk kepentingan diri sendiri. Dalam tradisi masyarakat melakukan upacara pengorbana tidak disalahkan dalam agama Buddha, jika ingin menjalankan dhamma ataupun tidak menjalankan dhamma yang menerima akibat adalah diri sendiri.






DAFTAR PUSTAKA



Soeprapto, F.A. Agama-Agama Dunia. (Yogyakarta: Kanisius, 2014). Hal. 66-85

Djam’annuri. 2000. Agama Kita (PerspektifSejarah Agama-agama, SebuahPengantar). KurniaKalamSemesta: Yogyakarta

Bashori, Mulyono.2010. IlmuPerbandingan Agama.PustakaSayidSabiq: JawaBarat



Tidak ada komentar:

Posting Komentar